Sonny Y. Soeharso, Psikolog Bisnis
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Pancasila

Dalam setiap ceramah saya katakan bahwa setiap manusia yang dilahirkan melalui rahim seorang ibu harus dihasilkan dari persaingan antara ratusan ribu benih dari ayah yang mampu menembus telur dari ibu, hanya satu atau dua saja. Orang dilahirkan dari sebuah kompetisi, jadi orang tidak perlu takut menghadapi persaingan di mana pun, begitu pula dalam bisnis. Pengusaha suka membenci, mau tidak mau akan memasuki arena persaingan bisnis. Seberapa siap kita?

Persaingan bisnis yang semakin tajam menuntut organisasi / perusahaan dikelola secara profesional untuk bertahan dan terus berkembang dalam jangka panjang. Selain teknologi modal, keuangan, sistem operasi dan tentu saja sumber daya manusia adalah faktor penentu. Ya, tidak dapat disangkal bahwa kualitas sumber daya manusia sangat menentukan keberhasilan suatu perusahaan. Survei dan penelitian juga menunjukkan bahwa perusahaan yang mempekerjakan “karakter baik” dan kompetensi akan dapat melakukan yang terbaik dan menjadi “pendorong” untuk keberlanjutan suatu organisasi / perusahaan.

Masalahnya adalah bahwa banyak perusahaan telah merekrut “atasan” tetapi masih belum mampu unggul seperti yang diinginkan manajemen perusahaan. Bahkan, perusahaan telah melakukan tes / penilaian kompetensi (yang tidak murah) untuk para kandidat baik dari dalam maupun luar organisasi / perusahaan. Bahkan, tidak sedikit perusahaan yang membajak karyawan “unggul” dari perusahaan lain dengan harapan bisa mendongkrak kinerja perusahaan. Apakah Anda puas dengan pemilik perusahaan? Jawabannya belum!

Pertanyaannya adalah mengapa itu terjadi? Yang pasti, ada faktor-faktor lain yang juga berperan untuk mengaktualisasikan dan mengoptimalkan kompetensi seseorang untuk menunjukkan kinerja mereka. Dalam perspektif psikologi tidak cukup hanya “karakter baik” dan kompeten saja, tetapi ada faktor lain yang disebut modal psikologis atau sering disebut sebagai “PsyCap”. Kompetensi positif dan PsyCap akan mengarahkan karyawan ke Excel.

Pada tahun 2007, Luthans, psikolog dan Teman (DKK) memperkenalkan konsep PsyCap. Konsep ini sebenarnya merupakan pengembangan dari perilaku organisasi positif (Positive OB) yang menekankan pada penerapan kekuatan atau kekuatan (hal-hal positif) dalam sumber daya manusia dalam rangka mendorong kompetensi untuk berfungsi secara optimal dalam menunjukkan kinerjanya. Dengan kata lain PsyCap berfungsi sebagai “mesin pendorong” sehingga “kompetensi” dapat bekerja secara optimal. Sebagai mesin pompa air, kompetensi adalah kemampuan untuk menyedot air dari dalam tanah ke atas wadah air toren, tetapi agar air dapat memainkan perannya sebagai bahan pembersih untuk mencuci mobil atau motor diperlukan “pendorong” untuk menjadi kekuatan dan kekencangan Tekanan air semakin efektif untuk membersihkan kotoran.

Menurut Luthans et al ada empat (4) dimensi / aspek modal psikologis yang saya sebut sebagai PAHLAWAN (Harapan, Kemanjuran, Ketahanan, optimisme):

Pertama, harapan (hope). Setiap manusia memiliki harapan dan kebutuhan bahkan keinginan untuk manajemen perusahaan. Tetapi alih-alih menempatkan kepentingan pribadi tetapi harapan untuk sukses dan sukses yang diwujudkan dalam upaya sunguh-sunguh (totalitas) dan “bertunangan” menuju visi, misi perusahaan, tetap bertahan dan fokus pada target dan jika perlu menemukan cara Other (kreatif) agar tujuan / sasaran dapat tercapai. Semoga di sini agar perusahaan dapat beroperasi dalam jangka panjang sehingga harapan pribadi otomatis dapat terpenuhi.

Kedua, kepercayaan diri pada self-efficacy, yang merupakan upaya keras untuk mengatasi tantangan pada tugas dan lingkungan. Kepercayaan diri dikaitkan dengan penguasaan tugas dan penguasaan tekanan sosial. Jadi, karyawan dengan kepercayaan diri akan berusaha untuk berhasil menyelesaikan tugasnya dengan penuh ketekunan dan kegigihan dalam berusaha mencapai prestasi terbaik mereka. Dia mampu memindai lingkungan sosial dan dengan yakin memiliki kemampuannya untuk menciptakan target dan target dan impian yang dia inginkan.

Ketiga, daya tahan (resilience) adalah kemampuan untuk menanggung kesulitan dan tantangan untuk mencapai tujuan. Fakta menunjukkan tidak semua orang memiliki daya tahan tinggi dalam menghadapi tantangan. Akibatnya, banyak dari mereka yang putus asa, bahkan tidak ingin mencapai impian. Dalam dimensi ini dibutuhkan bukan sumber daya manusia yang cerdas tetapi manja dan lembek tetapi sumber daya manusia yang pintar dan “tangguh”. Apa pun yang mencegah pencapaian target akan siap dihadapi dan diatur, bahkan dengan sumber daya yang sangat terbatas.

Keempat, optimisme adalah sikap optimis terhadap keberhasilan masa kini atau masa depan. Karyawan yang optimis akan selalu berharap bahwa sesuatu yang baik akan terjadi. Sikap optimis itu akan mendorong dan mempengaruhinya untuk berusaha mencapai kesuksesan. Optimisme tinggi juga dibuat dari harapan masa depan yang lebih baik, bukan sebaliknya, pesimistis dan selalu mengeluh melihat keadaan diri dan lingkungannya.

Keempat modal psikologis tersebut diyakini mampu berkontribusi secara positif sebagai motivator dalam diri seseorang sehingga kompetensi yang dimilikinya dapat berfungsi dengan baik sehingga ia dapat tampil optimal dan unggul. Dalam persaingan bisnis yang ketat, terutama di era 4.0 Industrial Revolution (IOT) dengan turbulensi lingkungan bisnis penuh “VUCA” (Volatilitas, Ketidakpastian, Kompleksitas dan Ambiguitas) Kualitas sumber daya manusia (hard skill dan soft skill) Menentukan kelangsungan hidup dan kesuksesan perusahaan, di samping pengelolaan sumber daya manusia itu sendiri.

Kompetensi adalah kondisi mutlak, menjadi bagian integral dari modal manusia, tetapi modal psikologis perlu diperhatikan sehingga keduanya menjadi modal yang unggul. Perusahaan selalu perlu melakukan diagnostik modal psikologis karyawan dan dapat mengelolanya dengan tepat. Tujuannya adalah untuk memastikan pencapaian tujuan perusahaan.

Modal psikologis yang kuat membuat karyawan berkomitmen kuat pada pekerjaan mereka. Komitmen ini ditandai antara lain kesediaan untuk bekerja keras dan tidak menyerah pada kesulitan, keterlibatan, antusiasme dan konsentrasi penuh dalam pekerjaan. Karyawan yang berkomitmen pada pekerjaan mereka akan sangat asyik dan bersemangat bekerja, bahkan seolah tidak memikirkan waktu kerja dan hadiah yang diterimanya. Mereka bekerja “totalitas” dan bukan “Itung-itungan”. Mereka bekerja dengan sungguh-sungguh, dengan tekun, gigih, serius tetapi riang. Untuk mengenal seseorang, PsyCap yang kuat harus dilakukan tes mendalam dan wawancara sebagai bagian integral dari proses rekrutmen menggunakan metode Assessment Center (AC). Semoga artikel ini bermanfaat bagi pelatih Master, Widyaiswara, Fasilitator profesional, guru dan dosen serta praktisi bisnis yang tertarik dengan peran modal psikologis dalam mendapatkan daya saing dalam persaingan bisnis.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *